Jumat, 03 Mei 2019

KEISTIMEWAAN AIR ZAM-ZAM



Seluruh kaum muslimin pasti mengenal apa itu air zamzam. Air zamzam memiliki nilai historis yang sangat kental dengan keberadaan Agama Islam dimulai ketika ibunda Nabi Ismai mencari air untuk Ismail kecil yang kehausan di tengah luasnya hamparan padang pasir, sampai sumur zamzam di timbun oleh kaum Jurhum yang sedang dijajah oleh kaum Khuzaah dan digali kembali oleh Abdul Muthalib. Hal ini membuat air zamzam tidak bisa dipisahkan dengan kaum muslimin.

Air zamzam merupakan mukjizat dari nabi Ismail as. yang keberadaannya masih eksis pada hari ini hingga akhir zaman. Air zamzam bermula ketika Nabi Ibrahim membawa istri keduanya yang bernama Siti Hajar dan anak kecilnya yang bernama Ismail ke lembah di daratan Mekkah, dimana sekarang berdirinya Masjid Al-Haram.

Suatu ketika Allah menyeru Nabi Ibrahim as. meninggalkan anak dan istrinya di hamparan gurun yang tidak berpenghuni dan sangat gresang. Dengan rasa sangat bersedihnya Ibrahim melakukan perintah tuhan-Nya dengan tidak berpamitan dengan istrinya dan hanya meninggalkan apapun selain sebuah tas yang berisi kurma dan sebotol air yang terbuat dari kulit.

Menurut Ibn Abbas (semoga Allah SWT meridhainya), ketika Nabi Ibrahim as. meninggalkan keluarganya, istri tersayangnya mengikutinya dan bertanya ke mana ia akan pergi, “Hai Ibrahim! Ke mana kau akan pergi, meninggalkan kami di lembah ini di mana tidak ada seorang pun di sini menemani kami, juga tidak ada apa pun untuk kami makan?” Siti Hajar r.a. mengulangi pertanyaan itu berkali-kali, tetapi Nabi Ibrahim as. tidak menoleh pada istrinya, kemudian istrinya bertanya lagi,

 “Apakah Allah memerintahkan engkau untuk melakukannya?” Nabi Ibrahim as. bersabda, “Ya.” Istrinya lalu berkata, “Maka Dia tidak akan meninggalkan kita,”. Siti Hajar kemudian berbalik, sementara Nabi Ibrahim as. terus lanjut berjalan. Sesampainya di Thaniya, di mana istri dan anaknya sudah tidak bisa melihatnya lagi, Nabi Ibrahim as. menghadapkan wajahnya ke Ka’bah, lalu mengangkat kedua tangannya berdoa kepada Allah :

“Ya Tuhan, kami sesungguhnya telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” [QS. Ibrahim:37]

Dalam keadaan sendiri di gurun yang gersang, Siti hajar merawat Ismail kecil dengan penuh ketegaran. Melewati hari demi hari dengan bergantung dengan kurma dan sedikit air. Hingga pada saat air dan kurma itu habis dan Siti hajar menengok ke Ismail lalu mendengar tangisan Ismail sedang kehausan, Siti hajarpun tidak tega melihat anaknya kehausan lalu ia mencari keberadaan air berlari ke puncak bukit Safa kemudian ke bukit marwa untuk berharap ia melihat sumber air. Tetapi ia tidak menemukan setitik air pun, kemudian ia kembali ke Ismail dan melihat apa yang terjadi. Air mengalir di sekitar Ismail.

Dalam Sahih Bukhari, Ibn Abbas meriwayatkan Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Ini adalah kejadian yang mendasari tradisi jemaah haji berjalan antara Safa dan Marwah. Ketika Siti Hajar mencapai bukit Marwa (untuk terakhir kali), ia mendengan sebuah suara, kemudian ia diam dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia mendengar suatu itu terus-menerus dan berkata, “Wahai (siapapun engkau)! Engkau telah membuatku mendengarkan suaramu; apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat membantuku?” Dan ajaib! Ia melihat satu malaikat di lokasi Zam-Zam, sedang menggali tanah dengan tumitnya (atau sayapnya), hingga airnya memancar dari tempat itu. Ia lalu membentuk tangannya seperti mangkuk, dan mulai mengisi tempat air minumnya yang terbuat dari kulit dengan air menggunakan tangannya, dan air itu lalu mengalir keluar setelah dia menciduk sebagian di antaranya.” (Sahih Bukhari).

Mulai saat itu air tersebut dikenal sebagai air zamzam dikarenakan ketika air itu keluar Siti hajar berkata “زمزم” yang berarti melimpah. Air yang sangat familiar di seluruh dunia karena isi kandungan dari air tersebut

Penemuan air zamzam
Keberadaan air Zamzam pada saat menjelang kelahiran Nabi Muhammad tidaklah diketahui oleh seluruh Kaum Quraisy dikarenakan sumur air zamzam ditimbun oleh kaum jurhum yang pada saat itu dijajah oleh kaum Khuzaah. Penemuan kembali sumur zamzam terjadi ketika kakek Nabi Muhammad yang bernama Syaibah bin Hasyim atau yang dikenal sebagai Abdul Muthalib mengalami bisikan-bisikan pada tidurnya. Bisikan tersebut seakan-akan memberitahu kepada dirinya bahwa dia akan menemukan sumber kehidupan yang sudah lama menghilang.

Benar saja, bisikan pada mimpi Abdul Muthalib menunjukan keberadaan sumur zamzam yang telah lama hilang. Setelah penemuan sumur zamzam, kehidupan masyarakat di arab khususnya di kota Mekkah menjadi berkembang dari sebelumnya hanya kota yang gresang menjadi kota yang maju. Abdul Muthalib pun menjadi pemilik sah sumur zamzam dan menjadi seseorang yang di segani oleh penduduk Mekkah.

Air zamzam menjadi air yang suci bagi umat Islam. Air yang disebut oleh rasulullah sebagai air penyembuh, sebagaimana yang di riwayatkan oleh ibn Abbas, rasulullah bersabda :

“Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Air Zam-Zam sesuai dengan niat ketika meminumnya. Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya. Air Zam-Zam adalah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail.”

Begitu kompleksnya perjalanan air zamzam dengan umat Islam, sehingga pada saat ini air zamzam menjadi salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan umat Islam hingga saat ini. Contoh saja ketika umat Islam datang ke Mekkah untuk mengerjakan ibadah haji atau umrah pasti akan menyempatkan dirinya untuk menyicipi air zamzam, bahkan sampai di jadikan buah tangan untuk sanak famili di negaranya.

Dilansir dari buku Ensiklopedia Peradaban Islam Makkah, air Zamzam memiliki beberapa keistimeawaan antara lain :

1. Zamzam, mata air surga
“Karena sesungguhnya air Zamzam adalah salah satu mata air surga”.

2. Sebaik-baiknya air di bumi
“Sebaik-baiknya air di muka bumi adalah air Zamzam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang menyenangkan dan penawar rasa sakit”.

3. Sebagai pencuci air Rasulullah saat pembelahan dada sebelum kenabian
“Ketika saya masih di Makkah, Jibril datang dan membuka dada, lalu ia mencucinya dengan air Zamzam. Kemudian ia membawa sebuah baskom mas penuh hikmat dan iman, menuangkannya ke dalam dadaku, dan menutupnya lagi. Lalu ia mengambil tangan saya dan naik dengan saya ke surge pertama”.

4. Sebagai obat dan penghilang dahaga
“Minum air Zamzam sesuai dengan niat menemuinya. Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkannmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga semoga Allah menghilangkannya."

5. Dapat menyenangkan perut
“Kami menyebut air Zamzam dengan syuba’ah (uang menyenangkan). Dan kami juga mendapatkan, air Zamzam adalah sebaik-baiknya pertolongan (kebutuhan atas kemiskinan)”.

6. Sebagai air minum dan berwudhu
Rasulullah meminta untuk didatangkan segantang air Zamzam, kemudian ia berwudhu dengannya.

7.  Sebagai kompres kepala
“Adalah Rasulullah membawa air Zamzam di dalam kantong-kantong air (yang terbuat dari kulit). Beliau menuangkan dan membasuhkannya kepada orang yang sakit”.

8.  Kompres bagi yang demam
“Aku duduk bersama Ibnu Abbas di Makkah, tatkala demam menyerangku. Ibnu Abbas mengatakan, dinginkanlah dengan air Zamzam karena Rasulullah mengatakan, ‘Sesungguhnya demam adalah dari panas Neraka Jahanam, maka dinginkanlah dengan air atau air Zamzam’”.

9. Sebagai bekal perjalanan
“Dari Aisyah, ia membawa air Zamzam. Ia mengabarkan, ‘Sesungguhnya dahulu Rasulullah membawanya (sebagai bekal)’”.

Untuk informasi lebih lanjut dan info pendaftaran hubungi :
Tlp/Wa : 0856-9281-9898
Web : Al-Umroh

Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERBEDAAN UMROH DAN HAJI

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang memiliki banyak ragam budaya, agama, ras, suku, dll. Tapi berbicara soal ...