Kamis, 02 Mei 2019

HUKUM MENCIUM HAJAR ASWAD



Apa Hukum Mencium Hajar Aswad?
Setiap Jemaah haji ataupun umroh memang disunnahkan untuk bisa mencium hajar aswad. Lantas, mengapa seorang muslim disunnahkan mencium hajar aswad itu? Alasan paling sederhana adalah karena ingin mengikuti tuntunan Nabi, ini lantaran Rasulullah mencium batu hitam yang dipercaya berasal dari surga.
Tidak sah rasanya ketika Anda tidak mencium hajar aswad, ketika melaksanakan ibadah haji atau umrah. Ini terbukti dengan jumlah Jemaah yang banyak sampai rela berdesakan dan saling injak, hanya untuk mendekat atau sekedar memegang hajar aswad. Namun, ada baiknya Anda mengetahui asal-usul hingga hajar aswad diletakkan di samping ka’bah.

Tetapi sebelum memaparkan terkait Hajar aswad, ada baiknya ada mengetahui apa itu hajar aswad. Hajar aswad biasanya disebut dengan batu hitam. Lokasi diletakkan tepat di sebelah tenggara salah satu sudut ka’bah, dimana pada lokasi itulah para Jamaah haji ataupun umroh berkumpul dan berhenti ketika melakukan ibadah tawaf.
Mungkin tidak semua muslim mengetahui terkait alasan batu hitam tersebut dinamakan hajar aswad. Ini lantaran, batu tersebut diberinama aswad yang berasal dari kata Al Aswad yang memiliki arti hitam. 

Nama tersebut diambil untuk hajar aswad karena warna batu tersebut memang berwarna hitam kemerahan, serta memiliki Bentuk seperti telur.
Mencium Hajar Aswad memang sering jadi dambaan jamaah meskipun kadang tidak disandarkan pada pemahaman yang benar. Rasulullah SAW mencium Hajar Aswad adalah benar , tetapi kita sering mencium Hajar Aswad dengan cara yang tidak benar.

“Rasulullah SAW mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya, kemudian ia meletakkan kedua pipinya (di atas batu) sambil menangis. Kemudian beliau berkata, ‘Di sinilah ditumpahkan banyak air mata.” (HR Hakim).
Hukum mencium Hajar Aswad dapat sunah, mubah, atau haram.  Sunah jika dilakukan saat memulai atau ketika tiba di sudut Hajar Aswad pada saat pelaksanaan thawaf. Mubah jika kita datang tiba-tiba ingin mencium Hajar Aswad (di luar thawaf). Haram jika untuk mencium Hajar Aswad kita harus menganiaya orang lain. Berdesakkan dan sikut sana sikut sini.

Mengingat beratnya medan mencium batu hitam ini, Rasulullah SAW memberi alternatif lain saat berthawaf sebagaimana sabdanya,  “Hai Umar, engkau adalah orang yang kuat, janganlah engkau berdesak-desakkan untuk mendekati Hajar Aswad, lalu engkau menyakiti yang lemah. Jika kamu memperoleh kesempatan maka ciumlah Hajar Aswad, jika tidak, cukup dengan takbir dan terus berjalan.” (HR Asyafie).

Mengenai pertanyaan cara mencium Hajar Aswad, tampaknya tidak ada resep yang baku. Sifatnya sangat kondisional. Bisa dengan cara ikut antre dari sisi dinding Ka’bah walau cara ini berisiko untuk jatuh. Bisa pula langsung masuk ke area berkumpulnya orang yang hendak mencium, mencari celah masuk dari orang yang baru keluar. Atau, dari arah kanan di bawah askar berdiri, kadang ada bantuan askar pula, terutama bagi wanita.

Teman membantu juga bisa dijadikan upaya, melindungi dan membuka jalan bagi masuknya kita untuk dapat mencium. Pola bantuan seperti ini yang kerap dimanfaatkan oleh para “calo Hajar Aswad”.
Ini harus hati-hati. Jika memang jamaah tidak bisa mencium batu hitam itu, tentu tidak mengapa karena sebagaimana disebutkan di atas hukum maksimalnya hanya sunah saja. Itu pun Nabi beri jalan jika tak mampu dapat diganti beristilam dengan isyarat dan bertakbir.

Apalagi yang tidak berkaitan dengan thawaf tentu, tidak boleh memaksakan diri sebab dapat jatuh ke lembah haram. Sebaiknya, jamaah mengingat saja pada peristiwa dan dalil ini, “Dari Abis bin Robi’ah, ia berkata ‘Aku pernah melihat Umar (bin Khattab) mencium Hajar Aswad. Lantas Umar berkata ‘Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu maka tentu aku tidak akan menciummu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, kita dapat menempatkan mencium Hajar Aswad itu lebih proporsional dengan mempertimbangkan antara semangat tinggi dan kemampuan yang ada serta status hukum yang melekat pada perbuatan ini. Hitam dan putihnya akibat dari mencium Hajar Aswad sangat digantungkan pada jiwa dan hati jamaah haji itu sendiri. Itu tergantung niat yang ditanamkan.
Rasulullah SAW bersabda, ‘Hajar Aswad turun dari surge, padahal batu tersebut begitu putih, lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam.” (HR Tirmidzi No 877 menurut Syekh Nashiruddin Al Bani hadis ini shahih).

Tidakkah bisa Anda bayangkan, betapa indah dan cantiknya batu yang menurut sejarah agama Islam hajar aswad tersebut berasal dari surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, dimana titik-titik merah kekuningan yang jumlahnya mencapai 30 buah menjadi salah satu bentuk keajaiban yang tidak disadari oleh banyak orang.
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa, batu hajar aswad merupakan batu yang berasal dan turun dari surga dan batu tersebut berwarna lebih putih dari susu, kemudian mengalami perubahan warna menjadi hitam seiring semakin bertambahnya dosa-dosa anak cucu Adam.

Menurut kisahnya nanti, Allah akan membangkitkan hajar aswad pada hari kiamat atau hari dimana dunia hancur dan semua makhluk hidup mati. Batu tersebut akan dibangkitkan dengan memiliki dua mata yang dapat melihat, juga dengan lidah yang mampu berbicara. Batu hajar aswad inilah yang akan menjadi salah satu bukti dan memberikan saksi kepada Allah, tentang siapa saja yang pernah menyentuh dan mengusapnya dengan hak.

Sebagian orang bahkan mempertanyakan, apa alasan umat muslim mencium hajar aswad? Padahal, menurut sejarah turunnya Rasulullah SAW ingin membebaskan manusia untuk menyembah berhala, lantas kenapa Jemaah haji atau umroh hukumnya Sunnah untuk mencium hajar aswad. Namun, sesungguhnya mencium hajar aswad bukanlah bermaksud untuk mengagungkan keberadaannya, tetapi semata-mata karena Rasulullah SAW pernah melakukan hal tersebut. Itulah sebabnya semua umat muslim juga mengikuti apa yang Rasulullah lakukan.

Dari kisah seorang sahabat nabi Muhammad SAW, yakni Umar bin Al-khattab mengatakan bahwa apa yang ia lakukan dengan mencium hajar aswad bukan karena mengharapkan sesuatu dari batu tersebut. Umar bin Al-khattab meyakini bahwa batu tersebut tidaklah akan mendatangkan apa-apa dalam kehidupannya. Ia melakukan hanya karena Ia pernah melihat Rasulullah pernah mencium batu hajar aswad.

Berdasarkan pengalaman atau kisah sejumlah orang yang pernah mencium batu hajar aswad yakni dengan memasukkan wajahnya ke bingkai peraknya, mereka melihat masa depannya kelak. Namun, apapun yang mereka lihat didalam bingkai tersebut tidak boleh dikatakan pada siapapun. Keajaiban yang utama pada hajar aswad adalah semua ukuran muka manusia bisa masuk dan pas di bingkai peraknya, sehingga semua orang bisa mencium batu tersebut.

Semoga batu hitam yang dicium oleh jamaah haji mampu membuat hati jamaah menjadi lebih putih. Sebaliknya, sungguh celaka jika gara-gara mencium Hajar Aswad justru hati putih jamaah menjadi hitam karena salah memaknai. Naudzubillah.

Untuk informasi lebih lanjut dan untuk info pendaftaran hubungi :
Tlp/Wa : 0856-9281-9898
Web : Al-Umroh.com

Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERBEDAAN UMROH DAN HAJI

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang memiliki banyak ragam budaya, agama, ras, suku, dll. Tapi berbicara soal ...