Berkesempatan menjalankan ibadah
pada Bulan Ramadhan di Tanah Suci (Mekkah dan Madinah) adalah hal yang sangat
istimewa dan selalu kami tunggu-tunggu. Setiap kesempatan berada di sana selalu
memberikan pengalaman dan cerita yang berbeda.
Ramadhan di tanah suci membawa
kenikmatan tersendiri dalam beribadah. Suasana masjid selalu penuh dan padat
apalagi saat ashar hingga menjelang malam.
Mengapa istimewa?
Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa
Sallam sendiri pernah bersabda :
“Sesungguhnya umrah di bulan
Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no.1863).
Bayangkan, sahabat, berhaji saja
sudah sedemikian besar keutamaan dan pahalanya, apalagi berhaji bersama
Rasulullah. Masya Allah, siapa yang tak ingin merasakannya?
Maka tak heran bila pada Bulan
Ramadhan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram selalu penuh sesak dan semakin sesak
pada sepuluh malam terakhirnya (sangat kontras dengan kondisi kebanyakan masjid-masjid
kita ya ...).
Sesaknya kedua masjid ini adalah
sesak yang berbeda, karena membawa nikmat. Meskipun dengan kondisi
berjubel-jubel, seluruh jama'ah tetap dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan
khusyu'.
Bulan Ramadhan sendiri memiliki
banyak keutamaan, diantaranya :
Bulan diturunkannya Al Qur’an
"Bulan Ramadhan adalah
(bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan
yang batil) ..." (Surat Al Baqarah: 185).
Dalam Kitab Shahih Al Bukhari
diriwayatkan bahwa tatkala usia Rasulullah mendekati 40 tahun beliau mulai suka
mengasingkan diri. Beliau biasa membawa roti yang terbuat dari gandum dan bekal
air menuju Gua Hira' yang terletak di Jabal Nur, yaitu sejauh hampir 2 mil dari
Mekkah.
Jabal Nur (Gua Hira')
Ketika pengasingannya (uzlah) di
Gua Hira' memasuki tahun ketiga, tepatnya di Bulan Ramadhan, Allah menghendaki
rahmat-Nya terlimpahkan kepada segenap penduduk bumi, lalu dimuliakanlah beliau
dengan mengangkatnya sebagai nabi, lalu Jibril turun kepadanya dengan membawa
beberapa ayat Al Qur'an.
Diwajibkan berpuasa pada bulan
ini
Meskipun sedang dalam kondisi
bersafar, sebagian besar jama'ah memilih untuk tetap berpuasa.
Melaksanakan puasa dengan kondisi
temperatur yang sangat panas (berkisar antara 40-50 derajat Celcius) dan waktu
siang yang lebih lama memberikan pengalaman tersendiri yang tak mungkin
terlupakan.
Benar-benar ujian fisik (dan
mental) bagi kita yang berasal dari negara dengan iklim yang relatif lebih
'bersahabat'.
Namun, semua kesulitan seakan
sirna pada saat berbuka puasa.
Nikmatnya tiada terkira ...
Pintu langit dibuka dan
pintu–pintu neraka ditutup
Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa
Sallam bersabda, "Apabila telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu langit
dibuka, sedangkan pintu–pintu neraka akan ditutup, dan setan dibelenggu"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Diampuninya dosa–dosa
“Barangsiapa yang berpuasa
Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni
dosa–dosanya yang telah lalu“ (HR. Bukhari dan Muslim )
Dilipatgandakan pahala pada Bulan
Ramadhan
Ibnu Rajab Rahimahullah berkata
(Abu Bakr bin Abi Maryam menyebutkan bahwa banyak guru–gurunya yang berkata:
apabila telah datang bulan Ramadhan maka perbanyaklah berinfaq, karena infaq
pada bulan Ramadhan dilipat gandakan bagaikan infaq fi sabilillah, dan tasbih
pada bulan Ramadhan lebih utama daripada tasbih di bulan yang lain).
Dijanjikannya pahala yang
berlipat ganda ini mendorong kaum muslimin untuk berlomba-lomba bersedekah.
Di Masjidil Haram dan Masjid
Nabawi, pada saat menjelang waktu berbuka puasa (Maghrib) akan terlihat banyak
sekali kelompok-kelompok yang menyediakan makanan untuk ifthar (buka puasa) dan
bahkan berebut mempersilakan jama'ah untuk bergabung bersama kelompok mereka.
Ifthar di halaman masjid banyak
menjadi 'incaran' jama'ah dari Indonesia, karena menunya lebih beragam,
termasuk menu makan 'berat' (seperti nasi briyani) dan buah-buahan yang sangat
menggiurkan (jeruk sunkist, apel, anggur, pisang, dan lain-lain).
Nikmat sekali ...
Lailatul Qadr ada di Bulan
Ramadhan
"Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam
kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu
turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar "
(Surat Al Qadr: 1-5)
Purnama di atas Masjid Nabawi
Seribu bulan? Setara dengan 83
tahun!
Sungguh, benar-benar malam yang
sangat istimewa bila kita bisa mendapatkan pahalanya.
Tak heran, pada sepuluh malam
terakhir jama'ah semakin memenuhi kedua masjid ini untuk mendapatkan
kemuliaannya.
Berbuka puasa di Madinah dan
Mekah, Arab Saudi, sungguh nikmat.
Sebab di dua kota ini, para
jamaah umrah yang ingin berbuka puasa mendapat sambutan dan pelayanan luar
biasa.
Kami disajikan berbagai macam
menu buka puasa. Semua gratis.
Makanan berbuka puasa di dua kota
ini, ada yang disediakan pemerintah setempat, ada pula dari swasta atau para
dermawan
Bahkan terkesan, para jamaah yang
ingin berbuka puasa seakan diperebutkan oleh para dermawan atau orang
suruhannya.
Mereka seakan berlomba-lomba agar
kami bersedia mampir menikmati menu buka puasa yang disajikannya.
Itulah yang kami rasakan saat
berbuka puasa di Masjid Nabawi di Madinah maupun di Masjidil Haram, Mekkah.
Hal tersebut dikarenakan para
dermawan tersebut ingin berebut mendapatkan pahala.
Sebab mereka meyakini pemberian
sekecil akan dibalas pahala Allah SWT, apalagi diberikan kepada orang berpuasa.
Terlebih dalam suasana bulan suci
Ramadan.
Ada pun menu buka puasa yang
disajikan hampir sama, baik di Madinah maupun di Mekkah.
Di antaranya ada kurma, yogurt,
roti dan air zamzam.
Satu lagi minuman khas masyarakat
setempat yang hampir sama dengan teh tapi di sini namanya, siwak.
Yang berbeda antara di Masjid
Nabawi dengan Masjidil Haram antara lain, menu buka puasa di Masjid Nabawi
seragam.
Waktu pernyajiaannya juga
bersamaan. Makan minum yang disediakan, ada dari pemerintah maupun swasta.
Sedangkan di Masjidil Haram,
makan minum hampir didominasi dari sumbangan pemerintah setempat.
Jamaah yang ingin menikmati buka
puasa di Masjid Nabawi atau di pelataran Masjidil Haram, para jamaah harus
meninggalkan hotel atau penginapan sejam sebelum waktu berbuka.
Atau kisaran pukul 18.00 sudah
harus bergerak ke masjid. Waktu berbuka di sini sekitar pukul 19.04 waktu
setempat.
Selama bulan suci Ramadan, baik
di Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram selalu terlihat padat.
Tak hanya kalangan orangtua,
anak-anak pun ramai.
Mereka rupanya banyak yang datang
bersama keluarga. Apalagi saat ini sedang masuk musim libur sekolah.
Untuk informasi lebih lanjut dan
info pendaftaran Umroh hubungi :
Tlp. 0856-9281-9898
Web : Al-Umroh.com
Terimakasih






Tidak ada komentar:
Posting Komentar