Kamis, 16 Mei 2019

KENIKMATAN BULAN RAMADHAN DI TANAH SUCI



Berkesempatan menjalankan ibadah pada Bulan Ramadhan di Tanah Suci (Mekkah dan Madinah) adalah hal yang sangat istimewa dan selalu kami tunggu-tunggu. Setiap kesempatan berada di sana selalu memberikan pengalaman dan cerita yang berbeda.
Ramadhan di tanah suci membawa kenikmatan tersendiri dalam beribadah. Suasana masjid selalu penuh dan padat apalagi saat ashar hingga menjelang malam.

Mengapa istimewa?   
Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam sendiri pernah bersabda :
“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no.1863).
Bayangkan, sahabat, berhaji saja sudah sedemikian besar keutamaan dan pahalanya, apalagi berhaji bersama Rasulullah. Masya Allah, siapa yang tak ingin merasakannya?  
Maka tak heran bila pada Bulan Ramadhan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram selalu penuh sesak dan semakin sesak pada sepuluh malam terakhirnya (sangat kontras dengan kondisi kebanyakan masjid-masjid kita ya ...).
Sesaknya kedua masjid ini adalah sesak yang berbeda, karena membawa nikmat. Meskipun dengan kondisi berjubel-jubel, seluruh jama'ah tetap dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan khusyu'.

Bulan Ramadhan sendiri memiliki banyak keutamaan, diantaranya :

Bulan diturunkannya Al Qur’an
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil) ..." (Surat Al Baqarah: 185).
Dalam Kitab Shahih Al Bukhari diriwayatkan bahwa tatkala usia Rasulullah mendekati 40 tahun beliau mulai suka mengasingkan diri. Beliau biasa membawa roti yang terbuat dari gandum dan bekal air menuju Gua Hira' yang terletak di Jabal Nur, yaitu sejauh hampir 2 mil dari Mekkah.

Jabal Nur (Gua Hira')
Ketika pengasingannya (uzlah) di Gua Hira' memasuki tahun ketiga, tepatnya di Bulan Ramadhan, Allah menghendaki rahmat-Nya terlimpahkan kepada segenap penduduk bumi, lalu dimuliakanlah beliau dengan mengangkatnya sebagai nabi, lalu Jibril turun kepadanya dengan membawa beberapa ayat Al Qur'an.

Diwajibkan berpuasa pada bulan ini
Meskipun sedang dalam kondisi bersafar, sebagian besar jama'ah memilih untuk tetap berpuasa.
Melaksanakan puasa dengan kondisi temperatur yang sangat panas (berkisar antara 40-50 derajat Celcius) dan waktu siang yang lebih lama memberikan pengalaman tersendiri yang tak mungkin terlupakan.
Benar-benar ujian fisik (dan mental) bagi kita yang berasal dari negara dengan iklim yang relatif lebih 'bersahabat'.
Namun, semua kesulitan seakan sirna pada saat berbuka puasa.
Nikmatnya tiada terkira ...

Pintu langit dibuka dan pintu–pintu neraka ditutup
Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam bersabda, "Apabila telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, sedangkan pintu–pintu neraka akan ditutup, dan setan dibelenggu" (HR. Bukhari dan Muslim)

Diampuninya dosa–dosa
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa–dosanya yang telah lalu“ (HR. Bukhari dan Muslim )

Dilipatgandakan pahala pada Bulan Ramadhan
Ibnu Rajab Rahimahullah berkata (Abu Bakr bin Abi Maryam menyebutkan bahwa banyak guru–gurunya yang berkata: apabila telah datang bulan Ramadhan maka perbanyaklah berinfaq, karena infaq pada bulan Ramadhan dilipat gandakan bagaikan infaq fi sabilillah, dan tasbih pada bulan Ramadhan lebih utama daripada tasbih di bulan yang lain).

Dijanjikannya pahala yang berlipat ganda ini mendorong kaum muslimin untuk berlomba-lomba bersedekah.
Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pada saat menjelang waktu berbuka puasa (Maghrib) akan terlihat banyak sekali kelompok-kelompok yang menyediakan makanan untuk ifthar (buka puasa) dan bahkan berebut mempersilakan jama'ah untuk bergabung bersama kelompok mereka.

Ifthar di halaman masjid banyak menjadi 'incaran' jama'ah dari Indonesia, karena menunya lebih beragam, termasuk menu makan 'berat' (seperti nasi briyani) dan buah-buahan yang sangat menggiurkan (jeruk sunkist, apel, anggur, pisang, dan lain-lain).
Nikmat sekali ...

Lailatul Qadr ada di Bulan Ramadhan
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar " (Surat Al Qadr: 1-5)

Purnama di atas Masjid Nabawi
Seribu bulan? Setara dengan 83 tahun!
Sungguh, benar-benar malam yang sangat istimewa bila kita bisa mendapatkan pahalanya.
Tak heran, pada sepuluh malam terakhir jama'ah semakin memenuhi kedua masjid ini untuk mendapatkan kemuliaannya.


Berbuka puasa di Madinah dan Mekah, Arab Saudi, sungguh nikmat.
Sebab di dua kota ini, para jamaah umrah yang ingin berbuka puasa mendapat sambutan dan pelayanan luar biasa.
Kami disajikan berbagai macam menu buka puasa. Semua gratis.
Makanan berbuka puasa di dua kota ini, ada yang disediakan pemerintah setempat, ada pula dari swasta atau para dermawan

Bahkan terkesan, para jamaah yang ingin berbuka puasa seakan diperebutkan oleh para dermawan atau orang suruhannya.
Mereka seakan berlomba-lomba agar kami bersedia mampir menikmati menu buka puasa yang disajikannya.
Itulah yang kami rasakan saat berbuka puasa di Masjid Nabawi di Madinah maupun di Masjidil Haram, Mekkah.

Hal tersebut dikarenakan para dermawan tersebut ingin berebut mendapatkan pahala.
Sebab mereka meyakini pemberian sekecil akan dibalas pahala Allah SWT, apalagi diberikan kepada orang berpuasa.
Terlebih dalam suasana bulan suci Ramadan.
Ada pun menu buka puasa yang disajikan hampir sama, baik di Madinah maupun di Mekkah.
Di antaranya ada kurma, yogurt, roti dan air zamzam.

Satu lagi minuman khas masyarakat setempat yang hampir sama dengan teh tapi di sini namanya, siwak.
Yang berbeda antara di Masjid Nabawi dengan Masjidil Haram antara lain, menu buka puasa di Masjid Nabawi seragam.
Waktu pernyajiaannya juga bersamaan. Makan minum yang disediakan, ada dari pemerintah maupun swasta.
Sedangkan di Masjidil Haram, makan minum hampir didominasi dari sumbangan pemerintah setempat.

Jamaah yang ingin menikmati buka puasa di Masjid Nabawi atau di pelataran Masjidil Haram, para jamaah harus meninggalkan hotel atau penginapan sejam sebelum waktu berbuka.
Atau kisaran pukul 18.00 sudah harus bergerak ke masjid. Waktu berbuka di sini sekitar pukul 19.04 waktu setempat.

Selama bulan suci Ramadan, baik di Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram selalu terlihat padat.
Tak hanya kalangan orangtua, anak-anak pun ramai.
Mereka rupanya banyak yang datang bersama keluarga. Apalagi saat ini sedang masuk musim libur sekolah.





Untuk informasi lebih lanjut dan info pendaftaran Umroh hubungi :
Tlp. 0856-9281-9898
Web : Al-Umroh.com

Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERBEDAAN UMROH DAN HAJI

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang memiliki banyak ragam budaya, agama, ras, suku, dll. Tapi berbicara soal ...