Kamis, 09 Mei 2019

BERZIARAH KE MAKAM RASULULLAH SAW


Ziarah Ke Makam Rasulullah SAW di Madinah. Pada saat berziarah ke makam Muhammad SAW ada sebuah getaran kuat yang kita rasakan. Getaran tersebut menyerupai saat kita berada didepan Multazam, pintu Ka’bah. Di bagian awal bab sudah kuceritakan, bahwa kita tidak kuasa menahan haru dan gembira. Tanpa terasa air mata membasahi pipi sebagai tanda bangga dan bahagia. Mimpi untuk berziarah ke makam Nabi sudah tersampaikan. Shalawat dan salam kuhaturkan kepada baginda Muhammad SAW.


Setiap muslim yang berziarah ke makam beliau hampir bisa dipastikan juga merasakan hal yang sama. Sebuah perjumpaan yang dapat mengisi ruang batin yang haus akan sentuhan ruhani dalam rangka memperbarui Iman, Islam, dan Ihsan. Ketiga ajaran tersebut merupakan inti dari tuntunan yang dibawa Muhammad SAW. Ketika berziarah ke makam beliau, semuanya hadir dalam waktu bersamaan.

Berziarah ke makam Nabi mempunyai kenikmatan tersendiri. Utamanya kenikmatan batin, yang tidak mudah didapatkan ditempat lain, kecuali di Ka’bah. Sebab itu, barangsiapa mendapat “panggilan” untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, Nabi juga mengundang agar berziarah ke Masjid Nabawi, yang dulunya juga menjadi tempat tinggal Nabii selama di Madinah. Jika dulu, rumah Nabi terpisah dengan Masjid Nabawi, sekarang rumah tersebut sudah menjadi satu dalam area Masjid Nabi. Makam Nabi terdapat didalam lingkungan masjid.

Sebab itu, berziarah ke Masjid Nabawi diantara daya tariknya adalah berziarah ke makam Nabi. Apalagi kalangan Sunni yang meyakini ziarah makam Nabi sebagai sebuah keutamaan, ada sentuhan batin dan pengalaman spiritual yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berziarah ke makam para ulama saleh adalah keutamaan, apalagi ke makam Muhammad SAW yang telah membawa ajaran Islam dengan segala perjuangan dan pengorbanannya.

Di pesantren, pelajaran tentang perjalanan hidup Nabi (al-sirah al-nabawiyyah) merupakan pelajaran utama. Sejak tahun-tahun pertama, kita dikenalkan dengan perjalanan hidup Nabi sejak sebelum lahir hingga meninggal dunia di Madinah. Kiai Idris Jauhari adalah kiai yang kita banggakan, karena dari buku beliaulah kita mengerti secara detail tentang perjalanan hidup Nabi.

Intinya, mengenal perjalanan hidup Nabi merupakan sebuah petualangan intelektual yang mencerahkan. Setiap gerak, ucapan, dan kebijakan Nabi merupakan teladan yang sangat baik, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, Sungguh bagi kalian dalam diri Rasulullah SAW terdapat teladan yang baik (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Sembilan tahun kemudian kita mendapatkan panggilan untuk berziarah ke makam Nabi. Sebuah kesempatan emas yang harus digunakan sebaik mungkin agar pengenalan dan pemahaman yang menghujam kuat dalam sanubariku menjelma sebagai tuntunan hidup dan sumber inspirasi. Bagiku yang dibesarkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ziarah ke makam Nabi akan memberikan tambahan nilai yang sangat berharga untuk senantiasa mengikuti ajarannya yang lurus dan toleran (al-hanifiyyah al-samhah).

Berziarah ke makam Nabi hakikatnya dalam rangka menghadirkan kembali makna-makna yang dapat mengisi kehidupan pada kedamaian dan keadaban publik. Salah satu makna tersebut adalah pentingnya ilmu. Saat berziarah ke makam Nabi, posisiku sebagai mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, yang sedang terhanyut dalam lautan ilmu merupakan fondasi yang sangat penting untuk mengayuh perahu di samudera peradaban yang amat luas. Apalagi pada masa modern yang salah satu ukurannya adalah ilmu pengetahuan.

Berziarah ke makam Nabi dengan subyektivitas personal yang terlibat langsung dengan sejarah dan ajarannya memberikan harapan yang sangat berarti. Pengalaman berziarah telah menyisakan sebuah kenangan indah, yaitu perjumpaan batin yang tidak akan pernah terlupakan.

Para ulama dari mazhab Syafii juga memandang ziarah ke makam Nabi sebagai sebuah anjuran yang dapat dijadikan sebagai syafaat di hari kemudian nanti. Menurut Abu Ishaq al-Syairazi dalam al-Muhadzdzab, hal tersebut mengacu pada hadis diatas, Barangsiapa berziarah ke makamku, maka ia akan mendapatkan syafaatku. Jaminan yang diberikan Nabi merupakan salah satu pertanda yang kuat perihal pentingnya berziarah ke makam Nabi.

Sedangkan Imam Nawawi memandang ziarah ke makam Nabi merupakan sebuah ritual yang sangat penting dilkitakan, terutama bagi mereka yang berkesempatan melaksanakan ibadah haji dan umraj. Disamping melaksanakan shalat di Masjid Nabawi dan berdoa di Raudha. Menurut Imam Nawawi, ada dua hal yang disunnahkan setelah menunaikan ibadah umrah dan haji, yaitu minum air zamzam dan berziarah ke kuburan Nabi di Madinah. Tidak hanya itu saja, selama didalam perjalanan menuju Madinah hendaknya memperbanyak shalawat kepada Nabi sambil berdoa agar perjalanan spiritual tersebut dapat membawa manfaat yang besar bagi pengalaman hidup setiap muslim.

Sedangkan para ulama dari mazhab Hanbali juga mempunyai perhatian yang sagat besar terhadap ziarah ke makam Nabi. Abu Muhammad bin Qudama berpandangan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Daruquthni, Barangsiapa melaksanakan haji, kemudian berziarah kemakamku setelah kematianku, maka seakan-akan ia berziarah padkita di masa hidupku.

Sedangkan Abu al-Farj bin Qudama memandang ziarah ke makam Nabi merupakan sebuah anjuran yang sejatinya dilkitakan bagi mereka yang telah dan akan melaksanakan ibadah haji. Alasannya mengacu pada sejumlah ayat diatas, khususnya surat al-Nisa ayat 64 dan beberapa hadis yang telah disepakati kedudukannya oleh para ulama sunni. Hanya saja Abu al-Farj bin Qudama memberikan catatan khusus, yaitu saat berziarah kemakam Nabi memaksimalkan doa dan ampunan. Tidak dianjurkan untuk memeluk dan mencium tembok yang didalamnya terdapat makam Nabi. Para ulama terdahulu tidak melkitakan hal itu, kecuali menyentuh mimbar Nabi. Ibnu Qudama melkitakan hal tersebut.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan, bahwa hampir tidak ada perbedaan dari para ulama mazhab perihal kedudukan ziarah ke makam Nabi. Mereka mempunyai pandangan yang hampir sama, bahwa setiap muslim yang mampu melaksanakan umrah dan haji agar meluangkan waktunya untuk berziarah ke Madinah, terutama Masjid Nabawi untuk berdoa di Raudha dan berziarah di makam Nabi, dan para sahabat.

Diantara mereka hanya berbeda pendapat soal kedudukan hukum ziarah tersebut. Mazhab Hanafi memandang ziarah Nabi adalah sunnah yang mendekati wajib. Sebagian mazhab Maliki berpendapat, bahwa ziarah tersebut merupakan sunnah yang kedudukannya wajib (min al-sunan al-wajibah). Sedangkan bagi mazhab Syafii dan Hanbali, ziarah ke makam Nabi merupakan sebuah anjuran yang mendatangkan manfaat luar biasa bagi siapapun yang melkitakannya.

Pendapat tersebut telah menjadikan ziarah ke makam Nabi dari sebelumnya sebagai ritual keagamaan menjadi “tradisi”. Yaitu ritual keagamaan yang kerapkali dilkitakan oleh para ulama dari masa ke masa. Kita tahu, bahwa para ulama hukum islam pada umumnya berbeda pendapat dalam banyak hal, tetapi istimewanya dalam hal ziarah ke makam Nabi mereka tidak terlibat dalam perbedaan pendapat.

Mereka semuanya terhanyut dalam ritual ini, karena ziarah ke makam Nabi meninggalkan sebuah kesan dan pengalaman tersendiri bagi siapapun yang melaksanakannya. Didalam beberapa hadis disebutkan, bahwa Nabi pernah mengisahkan perihal kedatangan Isa al-Masih untuk berziarah ke makamnya.

Hal tersebut terkait dengan kedudukan Muhammad SAW sebagai Nabi dan utusan Tuhan, yang telah berperan besar dalam membawa syariat bagi kehidupan umat yang mulia dan adiluhung (khayr ummah). Nabi di masa hidup telah mendedikasikan hidupnya bagi kemaslahatan umat dan mereka yang membangun persaudaraan dengannya. Sebab itu, Nabi tidak hanya disayangi oleh mereka yang hidup semasa dengannya atau mereka yang hidup setelahnya, tetapi juga disayangi oleh Isa al-masih.

Tradisi ulama dalam berziarah ke makam Nabi harus menjadi salah satu tuntunan yang akan mengingatkan setiap muslim pada ajarannya yang mengutamakan kearifan, nasihat yang santun dan dialog yang konstruktif. Islam adalah aagama yang mengajak setiap pemeluknya untuk menggunakan akal budi untuk mencapai kebenaran.

Tidak seperti pandangan sebagian kalangan yang cenderung melihat persoalan secara hitam putih. Atas nama pemurnian iman, mereka melarang ziarah ke makam Nabi sambil melkitakan tindakan-tindakan ekstrem yang sama sekali tidak sejalan dengan garis-garis besar ajaran islam. Maka, barziarah ke makam Nabi merupakan salah satu solusi yang tepat agar sikap keberagaman yang ekstrem tersebut menjadi lebih lentur dan lembut.

Mentradisikan ziarah ke makam Nabi akan menyisakan sebuah kesan yang sangat baik, bahwa beragama yang baik adalah beragama dengan menggunakan intuisi dan hati nurani. Beragama membutuhkan permenungan yang mendalam, terutama dalam rangka mengasah kepekaan spiritual. Perjumpaan batin dengan Nabi dalam ziarah ke makamnya akan memberikan kesan yang amat mendalam untuk menemukan makna-makna yang akan menjadikan hidup semakin nikmat dan berkualitas untuk kemanusiaan universal.

Dalam sejarah dikisahkan, Umar bin Abdul Aziz mengirimkan surat dari Damaskus ke Madinah. Isi surat tersebut adalah mengirimkan salam kepada Muhammad SAW. Salam tersebut agar disampaikan dim akam Nabi saat melaksanakan ziarah. Tradisi ini dilkitakan oleh para ulama dan mereka yang tidak berkesempatan untuk melaksanakan ziarah secara langsung ke makam Nabi. Mereka menitipkan kepada orang yang sedang berziarah ke Madinah untuk mengucapkan salam.

Umar bin Khattab di saat kembali dari Jerusalem setelah menguasai kota suci tersebut langsung menuju makam Nabi. Umar sepertinya ingin mengabarkan kepada Nabi perihal pencapaian spektkitaler yang telah diraihnya sebagai penerus dan pemimpin besar setelah Nabi. Jerusalem yang pada saat itu berada dibawah kekuasaan Romawi Byzantium menerima kehadiran islam untuk menguasai Jerusalem tanpa tetesan darah sedikitpun. Umar diterima dengan lapang dada oleh kalangan Kristen, bahkan membuat nota perdamaian di antara mereka sebagai manifestasi dari ajaran agama-agama samawi yang cinta perdamaian.


Ziarah Umar bin Khattab ke makam Nabi meneguhkan sebuah tradisi yang sangat panjang perihal ziarah tersebut. Sumbernya tidak lain adalah cinta yang menghujam dalam sanubari setiap muslim. Tuhan saja mencintai Muhammad SAW sepenuh hati, apalagi pengikut Nabi yang telah mendapatkan petunjuk, bahkan syafaat di akhirat kelak. Didalam Al Quran disebut, Sesungguhnnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah dan kirimkanlah salam damai kepadanya.

Ziarah ke makam Nabi pada hakikatnya adalah ziarah cinta yang lahir dari sebuah iman dan komitmen untuk melaksanakan syariatnya. Spirit yang seperti ini amat penting bagi setiap muslim, terutama dalam rangka memahami dasar dan fondasi syariat yang diusung oleh Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis disebutkan, Sesungguhnya kita adalah Nabi penebar kasih sayang.

Setiap berziarah Nabi nuansa tersebut sangat terasa, karena ziarah cinta akan melahirkan cinta. Yaitu cinta kepada Allah SWT dan cinta kepada Nabi. Kedua cinta tersebut akan melahirkan cinta yang lain, yaitu cinta kepada sesama manusia, baik kepada sesama muslim maupun kepada non muslim. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda, Tidak ada seseorang yang menyampaikan salam kepadkita kecuali Allah SWT mengembalikan salam tersebut kepada jiwkita, sehingga kita menjawab salam tersebut kepada orang tersebut.

Menurut Imam Nawawi dan Muhammad Faqi al-Mishri, bahwa jaminan balasan Nabi terhadap siapa pun yang menyampaikan salam kepadanya karena hubungan antara Nabi dan umatnya dibangun diatas dasar cinta sejati. Mereka yang datang ke makam Nabi juga didasarkan cinta yang kuat kepada pujaannya, Muhammad SAW. Meskipun perjalanan jauh dilalui dan tidak sedikit harta yang dikeluarkan untuk misi ziarah tersebut, tetapi ketika sampai di Madinah rasa penat hilang seketika, karena salam dan doa yang diucapkan kepada Nabi akan dijawab, sebagaimana terjadi pada seseorang yang dulu berdoa di makam Nabi.

Kecintaan umat islam dari masa ke masa terhadap Nabi merupakan sebuah kekuatan yang mahadahsyat, yang akan menjelma sebagai harapan untuk membangun peradaban kasih sayang. Setidaknya, masih ada kasih yang terus dan akan selalu hidup dalam diri setiap muslim, yaitu kasih yang diekspresikan dalam ziarah ke makamnya. Sebab itu, para ulama telah mencapai konsensus agar setiap muslim yang mampu menunaikan ibadah umrah dan haji dapat melanjutkan perjalanan spiritual ke Madinah dalam rangka menunaikan shalat di Masjid Nabawi dan berziarah ke makam Nabi.

Tentu, cinta membutuhkan pengorbanan dan totalitas. Tidak semua orang mampu melkitakannya. Tetapi mereka yang mempunyai niat dan komitmen akan senantiasa melkitakan itu sebagai manifestasi dari cinta yang membumbung tinggi dalam sanubarinya. Memang, amat disayangkan jika masih ada pandangan dan anggapan bahwa berziarah ke makam Nabi dan makam orang-orang saleh lainnya sebagai sebuah penyimpangan dari agama. Pandangan seperti ini merupakan sebuah wujud hilangnya spiritualitas dalam beragama. Seolah-olah agama hanya mengajarkan dimensi legal formal, sedangkan dimensi spiritual tidak pernah terpikirkan.

Ajaran cinta yang terkandung dalam islam diharapkan agar setiap muslim dapat menggali nilai-nilai yang telah merekatkan hubungan diantara kelompok yang dulunya berbeda, lalu terikat dalam solidaritas bersama. Hubungan antara kalangan Anshar dan Muhajirin merupakan bukti yang sangat kuat, bahwa ajaran fundamen ajaran Nabi adalah cinta. Yaitu cinta yang makin mempererat hubungan batin serta menghilangkan kebencian diantara mereka.

Ziarah ke makam Nabi harus mampu membangun cinta tersebut untuk kemuliaan hidup setiap umat islam. Apalagi ditengah hilangnya spiritualitas dan moralitas publik agama yang mencerminkan persaudaraan dan solidaritas tersebut. Diperlukan sebuah pendekatan yang mengedepankan intuisi yang semakin mengasah dimensi kemanusiaan.

Setiap muslim harus menjadikan Nabi sebagai teladan dan panutan, baik dalam hal ritual maupun dalam ranah sosial. Melihat sebuah persoalan dengan menggunakan mata hati yang dilandasi cinta akan menjadikan setiap muslim dapat membangun hubungan yang harmonis dan toleran di tengah kemajemukan.

Dengan demikian, setelah melakukan ziarah ke makam Nabi saatnya untuk memahami kembali ajaran Nabi dengan sebaik-baiknya. Spiritualitas dan moralitas harus disertai dengan intelektualitas dan rasionalitas. Yaitu pemahaman yang sebaik-baiknya dan seluas-luasnya terhadap ajaran Nabi. Ibarat samudera, ajaran Nabi merupakan samudera yang kedalamannya tidak selalu kering. Alangkah indahnya jika kedalaman ajaran tersebut disertai dengan pembelajaran yang intensif untuk sebuah keberislaman yang rahmatan lil alamin.

Untuk informasi lebih lanjut dan info pendaftaran hubungi :
Tlp. 0856-9281-9898
Web : Al-Umroh.com

Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERBEDAAN UMROH DAN HAJI

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang memiliki banyak ragam budaya, agama, ras, suku, dll. Tapi berbicara soal ...