Rabu, 20 Februari 2019

Walimatus Safar sebelum berangkat UMROH




Melaksanakan pengajian sebelum berangkat umroh dikenal juga sebagai wujud rasa syukur. Syukuran atau selamatan ini sudah sejak lama jadi bagian tradisi masyarakat Indonesia. Selain mengucap syukur, syukuran dengan melakukan pengajian juga merupakan kesempatan bersilaturahmi dan berbagi kegembiraan karena telah diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk melakukan perjalanan umrah.

Tentunya bentuk kegembiraan ini beraneka rupa bentuknya. Berbagi kegembiraan bisa dilakukan bersama sanak saudara terdekat, bisa pula dengan anak-anak panti asuhan. Selama tidak dilaksanakan secara berlebihan dan tidak dimaksudkan untuk pamer atau menyombongkan diri, sebenarnya pengajian yang diselenggarakan sebelum berangkat umrah bukanlah tergolong perbuatan bidah.

Secara harfiah walimatus safar artinya “menjamu” atau “pesta” dalam rangka safar “perjalanan” haji. Tentu yang dimaksud dalam kaitan ini adalah calon jamaah haji mengundang sanak saudara, kerabat, dan tetangga untuk hadir dalam acara “pamitan” calon jama’ah untuk menunaikan ibadah haji. Biasanya disamping kalimat pamit, mohon maaf, juga diisi dengan ceramah atau taushiyah yang berhubungan dengan ibadah haji.

Walimatus safar tentu tidak dikenal dalam manasik haji karenanya tidak berhubungan dengan tatacara ibadah dan Rosulullah SAW juga tidak mencontohkan. Ada yang melarang kegiatan ini karena ghoir masyru’ adapula yang mengharuskan dan ada pula yang sekedar menganjurkan.

Jalan tengahnya adalah jika hendak melakukan wakimatus safar, maka kegiatan itu harus diyakini bukan merupakan kegiatan ibadah haji, tidak berlebih-lebihan, tidak didasarkan atas pamer diri atau riya serta jauh dari hal-hal yang berbau kemusyrikan.

Berikut ini sejumlah ketentuan yang perlu diperhatikan kala melaksanakan walimatus safar :

Jika kita tidak bisa mendatangi atau bersilaturahmi kepada sanak saudara, kerabat, dan tetangga untuk berpamitan dikarenakan suatu kendala tertentu, sebagai gantinya kita yang mengundang mereka agar menghadiri syukuran kita.
Mengumumkan rencana keberangkatan kita kepada sanak keluarga, kerabat, sahabat, maupun tetangga akan membantu mereka memperhatikan dan menjaga keluarga yang kita tinggalkan selama umrah. Ini merupakan amal saleh dalam mewujudkan hak dan kewajiban muslim terhadap muslim lainnya.

Walimatus safar merupakan momentum yang baik untuk kesempatan berdakwah dan menyampaikan hal-hal yang baik sekaligus mencegah hal-hal yang buruk. Momentum ini tentunya bisa dikaitkan dengan ibadah umrah, yang juga dikenal sebagai “Haji Kecil”.
Karena perjalanan beribadah haji merupakan perjalanan suci (rihlah muqaddasah), maka tidaklah salah jika kita sebagai calon jemaah memohon maaf secara terbuka kepada seluruh tamu undangan yang hadir sebagai upaya membersihkan hati sebelum berangkat. Maaf yang mereka berikan itu  merupakan wujud dukungan atas karunia Allah SWT untuk membersihkan noda dan kotoran yang melekat pada diri kita, yang mungkin berasal dari kekeliruan sikap dalam pergaulan dengan sesama.
Syukuran juga bisa menjadi kesempatan saling mendoakan. Kita yang berangkat mendoakan yang ditinggalkan. Sebaliknya, yang kita tinggalkan mendoakan yang keberangkatan perjalanan kita.

Alangkah baiknya jika acara ini mengundang juga anak-anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang tidak mampu agar semangat berbagi kebahagiaan itu semakin terasa. Sementara bagi yang memang berat untuk mengeluarkan biaya bagi acara walimatus safar  tidaklah  perlu untuk memaksakan diri karena di samping tidak ada dalil baik Alquran maupun Sunnah yang mengharuskannya, juga wujud tasyakur dan silaturahmi dapat dilakukan dalam  bentuk-bentuk yang lain.


Bagi yang ingin mendo’akan keberangkatan saudaranya yang berangkat haji dapat mengamalkan hadits dari Abu Hurairoh Ra ini yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan  “astawdu’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu” (Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)—HR Ibnu Majjah dan Ahmad

Namun, bagi kita yang merasa berat menyelenggarakan syukuran, sebaiknya tidak perlu memaksakan diri untuk mengadakannya. Karena sejatinya, tasyakur dan silaturahmi masih dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk lain yang sesuai dengan kemampuan kita.

Bagi kita yang ingin mendoakan keberangkatan saudara yang melakukan perjalanan umrah, dapat mengamalkan hadis dari Abu Hurairoh Ra. Hadis tersebut menggambarkan ucapan Rasulullah SAW, “astawdu’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu,” yang berarti “Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya,” (HR Ibnu Majjah dan Ahmad).

Al Hafidz Abu Thohir mengatakan hadits ini Sahih.  Semoga safarnya calon jamaah baik sejak berangkat hingga kembali senantiasa ada dalam “jamuan” Allah SWT, dimudahkan rezekinya dan dimudahkan perjalanannya. Amin.

Untuk informasi selengkapnya mengenai umroh, pendaftaran umroh, haji plus, dan sebagainya bisa hubungi :
No. 0856-9281-9898
web : Al-Umroh.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERBEDAAN UMROH DAN HAJI

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang memiliki banyak ragam budaya, agama, ras, suku, dll. Tapi berbicara soal ...