Melaksanakan pengajian sebelum
berangkat umroh dikenal juga sebagai wujud rasa syukur. Syukuran atau selamatan
ini sudah sejak lama jadi bagian tradisi masyarakat Indonesia. Selain mengucap
syukur, syukuran dengan melakukan pengajian juga merupakan kesempatan
bersilaturahmi dan berbagi kegembiraan karena telah diberi kesempatan oleh
Allah SWT untuk melakukan perjalanan umrah.
Tentunya bentuk kegembiraan ini
beraneka rupa bentuknya. Berbagi kegembiraan bisa dilakukan bersama sanak
saudara terdekat, bisa pula dengan anak-anak panti asuhan. Selama tidak
dilaksanakan secara berlebihan dan tidak dimaksudkan untuk pamer atau menyombongkan
diri, sebenarnya pengajian yang diselenggarakan sebelum berangkat umrah
bukanlah tergolong perbuatan bidah.
Secara harfiah walimatus safar
artinya “menjamu” atau “pesta” dalam rangka safar “perjalanan” haji. Tentu yang
dimaksud dalam kaitan ini adalah calon jamaah haji mengundang sanak saudara,
kerabat, dan tetangga untuk hadir dalam acara “pamitan” calon jama’ah untuk
menunaikan ibadah haji. Biasanya disamping kalimat pamit, mohon maaf, juga
diisi dengan ceramah atau taushiyah yang berhubungan dengan ibadah haji.
Walimatus safar tentu tidak
dikenal dalam manasik haji karenanya tidak berhubungan dengan tatacara ibadah
dan Rosulullah SAW juga tidak mencontohkan. Ada yang melarang kegiatan ini
karena ghoir masyru’ adapula yang mengharuskan dan ada pula yang sekedar
menganjurkan.
Jalan tengahnya adalah jika
hendak melakukan wakimatus safar, maka kegiatan itu harus diyakini bukan
merupakan kegiatan ibadah haji, tidak berlebih-lebihan, tidak didasarkan atas
pamer diri atau riya serta jauh dari hal-hal yang berbau kemusyrikan.
Berikut ini sejumlah ketentuan
yang perlu diperhatikan kala melaksanakan walimatus safar :
Jika kita tidak bisa mendatangi
atau bersilaturahmi kepada sanak saudara, kerabat, dan tetangga untuk
berpamitan dikarenakan suatu kendala tertentu, sebagai gantinya kita yang
mengundang mereka agar menghadiri syukuran kita.
Mengumumkan rencana keberangkatan
kita kepada sanak keluarga, kerabat, sahabat, maupun tetangga akan membantu
mereka memperhatikan dan menjaga keluarga yang kita tinggalkan selama umrah.
Ini merupakan amal saleh dalam mewujudkan hak dan kewajiban muslim terhadap
muslim lainnya.
Walimatus safar merupakan
momentum yang baik untuk kesempatan berdakwah dan menyampaikan hal-hal yang
baik sekaligus mencegah hal-hal yang buruk. Momentum ini tentunya bisa
dikaitkan dengan ibadah umrah, yang juga dikenal sebagai “Haji Kecil”.
Karena perjalanan beribadah haji
merupakan perjalanan suci (rihlah muqaddasah), maka tidaklah salah jika kita
sebagai calon jemaah memohon maaf secara terbuka kepada seluruh tamu undangan
yang hadir sebagai upaya membersihkan hati sebelum berangkat. Maaf yang mereka
berikan itu merupakan wujud dukungan
atas karunia Allah SWT untuk membersihkan noda dan kotoran yang melekat pada
diri kita, yang mungkin berasal dari kekeliruan sikap dalam pergaulan dengan
sesama.
Syukuran juga bisa menjadi
kesempatan saling mendoakan. Kita yang berangkat mendoakan yang ditinggalkan.
Sebaliknya, yang kita tinggalkan mendoakan yang keberangkatan perjalanan kita.
Alangkah baiknya jika acara ini
mengundang juga anak-anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang tidak mampu
agar semangat berbagi kebahagiaan itu semakin terasa. Sementara bagi yang
memang berat untuk mengeluarkan biaya bagi acara walimatus safar tidaklah
perlu untuk memaksakan diri karena di samping tidak ada dalil baik
Alquran maupun Sunnah yang mengharuskannya, juga wujud tasyakur dan silaturahmi
dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk yang
lain.
Bagi yang ingin mendo’akan
keberangkatan saudaranya yang berangkat haji dapat mengamalkan hadits dari Abu
Hurairoh Ra ini yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW mengucapkan “astawdu’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa
daa-i’uhu” (Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan
titipannya)—HR Ibnu Majjah dan Ahmad
Namun, bagi kita yang merasa
berat menyelenggarakan syukuran, sebaiknya tidak perlu memaksakan diri untuk
mengadakannya. Karena sejatinya, tasyakur dan silaturahmi masih dapat dilakukan
dalam bentuk-bentuk lain yang sesuai dengan kemampuan kita.
Bagi kita yang ingin mendoakan
keberangkatan saudara yang melakukan perjalanan umrah, dapat mengamalkan hadis
dari Abu Hurairoh Ra. Hadis tersebut menggambarkan ucapan Rasulullah SAW,
“astawdu’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu,” yang berarti “Aku menitipkan
kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya,” (HR Ibnu
Majjah dan Ahmad).
Al Hafidz Abu Thohir mengatakan
hadits ini Sahih. Semoga safarnya calon
jamaah baik sejak berangkat hingga kembali senantiasa ada dalam “jamuan” Allah
SWT, dimudahkan rezekinya dan dimudahkan perjalanannya. Amin.
Untuk informasi selengkapnya mengenai umroh, pendaftaran umroh, haji plus, dan sebagainya bisa hubungi :
No. 0856-9281-9898
web : Al-Umroh.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar