Rabu, 12 Desember 2018

Pengertian Umroh dan tingkatan haji Mabrur dan Maqbul


Haji Maqbul



Pengertian Umroh
          Kalian pasti sudah mengetahui apakah yang dimaksud dengan umroh, tapi pasti ada yang belum mengerti kan? Bagi yang belum mengerti coba kalian baca di bawah ini!
Umroh sering juga disebut dengan haji kecil (Hajjul Ashghar) karena pelaksanaan umroh lebih sederhana dibandingkan dengan pelaksanaan ibadah haji .Umroh dalam artian luas adalah salah satu kegiatan ibadah yang berhukum sunnah dalam agama Islam dengan berkunjung  atau berziarah melakukan ritual ibadah di kota suci Mekkah, terutama di Masjidil Haram. Umroh dapat dilaksanakan kapan saja karena waktu umroh tidak mengikat, kecuali pada hari Arafah yaitu tgl 10 Zulhijah dan hari-hari Tasyrik yaitu tgl 11,12,13 Zulhijah.Sedangkan melaksanakan  ibadah umroh pada bulan Ramadhan sama nilainya dengan melakukan Ibadah Haji (Hadits Muslim).

Umroh mengandung banyak Fadillah yang sangat bermanfaaat karena umroh merupakan salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, seperti :
Sebagai penebus dosa-dosa yang sebelumnya pernah dilakukan, hal ini disebutkan dalam sebuah hadits:
Sabda Rosulullah SAW, (yang artinya):
“Umroh ke umroh lainnya adalah penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan Haji yang mabrur tidak mempunyai balasan kecuali surga.” (Hadits riwayat Al-Bukhari)
Menenangkan serta menentramkan pikiran dan hati yang penat.

Adapun perbedaan umroh dan haji adalah sebagai berikut :
1. Umroh

  •   Dapat dilakukan setiap waktu (setiap hari, setiap bulan, setiap tahun).
  •   Hanya dilakukan di Mekkah.
  •   Dalam umroh tidak dilaksanakan jumrah, wukuf, dan mabit.
2. Haji

  •   Dilakukannya pada beberapa waktu antara tanggal 8 Dzulhijjah - 12 Dzulhijjah.
  •   Dapat dilaksanakan sampai ke luar kota Mekkah.
  •   Dalam melakukan ibadah haji diwajibkan untuk melaksanakan jumrah, wukuf dan mabit.
Nah biasa orang yang berhaji biasa nya sering di sebut Haji mabrur dan yang melaksanakan umroh sering di sebut Haji Maqbul. Kenapa demikian?
Apa itu Mabrur dan Maqbul?
Dua kata ini sama artinya, yaitu diterima Allah Swt semua pahalanya ketika berhaji dan umrah. Namun bagaimana mengapainya? Dan ternyata ini sulit, para ulama pun sedikit sekali memberi arti pada makna mabrur atau maqbul. Karena sebenarnya seperti halnya puasa, kita tidak tahu bagaimana bentuknya orang yang diterima pahala nya itu.
Namun Mabrur itu bisa diselidiki lebih jauh dari kiat mengapainya.
Dengan demikian mabrur dan maqbul itu bukan sekedar diterima pahala begitu saja tanpa apa perjuangan gigih mengapainya.

Keinginan mabrur seseorang ditentukan beberapa faktor. Yaitu sebelum berangkat, selama menjalankan ibadah, dan terakhir saat hendak kepulangan atau aktifitas harian di Tanah air.

Persiapan Sebelum Berangkat
Persiapan sebelum berangkat sangat penting sekali, ini menyangkut kesalehan seseorang. Ada beberapa kiat memperoleh pahala maqbul sebelum berangkat yaitu:

Persiapan Zhahir

  1. Bertobat dari segala dosa dan maksiat, baik dosa kepada Allah Swt, yaitu pelanggaran dari segala larangan-Nya dan keengganan melaksanakan perintah-Nya, maupun dosa kepada sesama manusia.
  2. Meminta izin orang tua atau yang dituakannya.
  3. Membayar semua hutang, mengembalikan segala harta yang diperoleh dengan cara zhalim (korupsi) dan aniaya (merampas hak orang lain).
  4. Dana yang digunakan benar-benar halal dan bersih.
  5. Menyiapkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan.
  6. Banyak memberi sedekah kepada orang-orang dhuafa, fakir dan miskin.
  7. Carilah kawan seperjalanan yang saleh, yang baik, senang menolong, sering mengingatkan jika lupa, suka menegur jika ada kesalahan, memotivasi kepada keteguhan dan kesabaran
  8. Sebelum berangkat, berpamitan kepada teman, tetangga dan saudara lainya yang berdekatan. Meminta restu mereka, dan mendoakan untuk mereka

Persiapan Batin

  1. Niat dan tujuan semata-mata karena Allah Swt, dan bukan untuk mencari kemasyhuran dan gelar.
  2. Mempunyai bekal yang cukup, memperbanyak sedekah, infak dll.
  3. Meninggalkan rafats (ucapan kotor; tidak berguna), fusûq (maksiat, keluar dari ketaatan kepada Allah Swt), dan jidâl (berbantahan, bertengkar dll.)
  4. Rendah hati, lemah-lembut, mengutamakan kebaikan, budi pekerti yang baik. Tidak menyakiti orang lain, husnu zhan (berbaik sangka), sabar dan tabah dalam menghadapi perbuatan yang tidak menyenangkan dan menyakitkan
  5. Ikhlas dalam segala ucapan dan perbuatan. Tidak memperhitungkan segala apa yang telah dikeluarkan untuk menyempurnakan ibadah haji maupun umrah
  6. Ikhlas dan sabar dalam menghadapi musibah atau kerugian yang menimpa fisik dan harta. Sebab segala musibah dan kerugian yang diterima secara ikhlas, termasuk kebaikan berpahala di sisi Allah.

Untuk bisa memahami makna maqbul dan mabrur, para ulama ada yang membedakannya sebagai berikut.
haji maqbul adalah haji yang diterima Allah SWT. Orang yang melaksanakannya mendapat pahala berhaji dan kewajiban berhaji atasnya telah terhapus atau telah terlaksanakan.
haji mabrur adalah haji yang membuat orang yang melaksanakannya menjadi pribadi yang lebih baik. Semua makna ibadah selama berhaji melekat di hatinya dan diamalkan dalam kehidupannya.
Sebenarnya, tidak ada ciri atau tanda tertentu yang dapat memastikan apakah ibadah haji seseorang diterima Allah SWT atau tidak. Tidak ada ketentuan khusus yang harus dilakukan agar memenuhi syarat maqbul atau mabrur. Diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang adalah hak Allah SWT dan hanya Dia-lah yang mengetahuinya. Tidak orang lain dan tidak juga diri kita bisa menyatakan apakah haji kita maqbul dan mabrur.

Diterima atau tidaknya ibadah seseorang sebenarnya tidak terbatas pada ibadah haji. Hal ini berlaku pula pada amalan lainnya seperti sholat, zakat, puasa, sedekah, dan lain sebagainya. Tidak ada yang tahu apakah sholat kita diterima atau tidak, apakah zakat kita diterima atau tidak, dan sebagainya. Namun, istilah maqbul dan mabrur hanya digunakan pada ibadah haji dan umroh. Tidak ada istilah sholat maqbul, sholat mabrur, zakat maqbul, zakat mabrur, dan sebagainya.

Meskipun tidak dapat dipastikan diterima atau tidaknya ibadah haji seseorang, banyak ulama yang berpendapat bahwa haji mabrur memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat pada kehidupan sehari-harinya. Salah satunya adalah meningkatnya ketaqwaannya kepada Allah SWT. Peningkatan taqwa ini bisa dilihat dari kualitas ibadah sepulang hajinya dilakukan lebih baik dan konsisten. Ia juga memperbaiki dan meningkatkan hubungan baiknya dengan sesama umat manusia, menjaga lisannya, menghindari segala perbuatan maksiat, dan sebagainya.

Selain istilah haji yang diterima, ada juga istilah haji yang tertolak. Kriteria haji tertolak ini lebih mudah dilihat, di antaranya adalah:
Mengandung riya : Unsur riya yang paling sering tampak di masyarakat Indonesia adalah panggilan “haji” di depan nama. Misalnya sebutan pak haji atau bu haji. Kata “haji” diperlakukan sebagai gelar layaknya gelar akademik seperti sarjana. Banyak orang yang pulang berhaji merasa senang dipanggil haji, bahkan mencantumkan gelar haji di depan nama lengkapnya dan dipasang di ruang publik.
Menggunakan uang haram : Berangkat haji dengan biaya hasil dari maksiat sudah bisa dipastikan hajinya tertolak. Misalnya biaya hajinya menggunakan uang hasil korupsi, merebut harta warisan, dan sebagainya.

Walaupun kita telah berusaha melakukan yang terbaik dalam menjalankan ibadah haji dan umroh kita, dari awal sampai akhir semua dilakukan dengan benar dan khusyuk, kita tetap tidak bisa mengatakan bahwa haji kita maqbul atau mabrur. Mengaku mabrur selepas berhaji dikhawatirkan termasuk perbuatan takabur atau ujub dan justru akan menghilangkan pahala berhajinya. Yang harus kita lakukan adalah jalankan semua ibadah sesuai dengan ketentuan secara khusyuk dan ikhlas, kemudian serahkan semua hasilnya kepada Allah SWT.

Semoga apa yang telah di jelaskan diatas dapat menjadikan kita haji dan umroh yang mabrur.  Informasi program umrah lihat webet Al-umroh.com atau bisa langsung hubungi nomor (0856-9281-9898)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERBEDAAN UMROH DAN HAJI

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang memiliki banyak ragam budaya, agama, ras, suku, dll. Tapi berbicara soal ...